Cluster Green Nature

 

Rumah 2 Lantai Minimalis Harga Manis

400 Juta an

Di Kalisuren Bogor

Cukup DP 10 Juta Langsung Akad

Cicilan Mulai 3 Juta an Perbulan

 

25 Menit ke Stasiun KRL Bojong Gede

10 Menit ke Rencana Exit Tol Parung - Serpong

15 Menit ke Rencana Exit Tol Sawangan

Review Cluster Green Nature Tipe 50/72

Cluster Green Nature berada di jalan Kalisuren, Parung, Bogor. Perumahan ini mengusung desain bangunan modern minimalis dengan penataan ruang yang baik sehingga penghuninya akan merasa nyaman dan lega. Cluster Green Nature mempunyai tingkat privasi serta keamanan yang lebih terjamin dengan konsep Satu Gerbang dan Security 24 Jam.

Cluster Green Nature menawarkan opsi untuk kaum milenial maupun keluarga muda yang ingin memiliki hunian 2 lantai berkualitas dengan harga & cicilan yang terjangkau. Akses yang sangat baik menuju ibukota dan sekitarnya karena dekat dengan 2 stasiun KRL Bojong gede & Cilebut sangat cocok bagi Anda yang memiliki mobilitas tinggi.

Cluster Green Nature juga memiliki legalitas lengkap mulai dari sertifikat pecahan tiap kavling dengan IMB nya yang menandakan bahwa tanah di perumahan ini aman dan sudah berizin untuk membangun bangunan, sehingga Anda tidak perlu repot lagi mengurus perizinan ke depannya.

Saat ini adalah kesempatan emas bagi Anda untuk mendapatkan harga perdana termurah dengan promo terbaik yang bisa Anda dapatkan pada fase soft launching kami. Nikmati kenaikan investasi properti Anda seiring dengan pertumbuhan infrastruktur di lokasi sekitar perumahan kami.

Aksesibilitas

20 menit ke Rencana Exit Tol Sawangan

10 menit ke rencana tembusan Tegar Beriman Pemda

25 menit ke stasiun Bojong Gede & stasiun Cilebut

Dilalui Angkutan Umum Bojong Gede-Parung

5 menit ke Pasar Modern Kalisuren & Pasar Parung

Dekat Pusat Pembelanjaan DPark Sawangan & Cibinong City Mall

Gallery

Rumah 2 Lantai Minimalis dengan perpaduan warna putih, mocca & coklat ditambah perpaduan garis yang tegas menjadikan perumahan ini terlihat simpel & elegan.

DETAIL

Lokasi

Kalisuren, Tajurhalang, Bogor, Jawa Barat 16320

15 Menit ke Rencana Exit Tol Sawangan

25 Menit ke Stasiun Bojong Gede

" frameborder="0" allowfullscreen>

Frequently Ask Questions

Saat Anda sudah merasa cocok dan tertarik dengan unit rumah, Anda bisa segera membayar booking fee sebesar 5 juta.

Maksimal dalam 14 hari setelah Booking, berkas KPR harus sudah lengkap, proses KPR setelah data lengkap sekitar 2 sd 4 minggu.

Setelah SP3K (Persetujuan Kredit) terbit dari Bank maka Anda perlu membayar DP dan menyiapkan waktu untuk pelaksanaan Akad Kredit

Booking Fee 5 juta & DP sekitar 10% sd 20% dari harga jual.

Kami ambil contoh, misal cicilan rumah senilai 4 jutaan, artinya gabungan penghasilan ideal Anda dan pasangan di angka 4 juta x 2,5 sekitar 10 juta/bulan

Anda tetap bisa ajukan KPR namun DP nya perlu diperbesar. Penambahan tergantung besaran penghasilan Anda saat ini, nantinya akan kami bantu hitungkan.

Booking Fee akan kembali 100% jika ditolak bank.

Booking Fee akan hangus jika mundur secara pribadi.

Untuk itu kami akan bantu menganalisa kelayakan Anda dalam memperoleh KPR jika Anda kooperatif dan bisa memenuhi persyaratan KPR.

Belum pasti disetujui, ada proses seperti BI Checking, analisa data penghasilan, validasi, dll. Yang memiliki wewenang sepenuhnya adalah pihak Bank.

Maksimal 14 hari setelah booking fee dibayarkan.

Lebih dari 14 hari maka kami anggap pembelian batal.

Satu bulan setelah Akad Kredit dengan pihak Bank

Unit rumah indent lama pembangunannya 5 bulan dari Akad Kredit untuk kemudian serah terima unit.

BTN Syariah.

PROMO SPESIAL SOFT LAUNCHING

Cukup DP 10 Juta Langsung Akad!

Cicilan KPR Mulai 3 Jutaan Perbulan!

Hubungi Sekarang Juga

Klik Tombol Chat Whatsapp

Dalam rangka mendukung upaya pengurangan penyebaran Covid-19, maka setiap kunjungan ke lokasi proyek wajib mengenakan masker & mengikuti protokol kesehatan sesuai anjuran pemerintah.

testimoni

Budi Satria

Senior Marketing Executive

whatsapp WhatsApp

TUNGGU APALAGI!

Cukup DP 10 Juta Langsung Akad!

Cicilan KPR MUlai 3 Jutaan Perbulan

Yuk di Nego Sampai Deal.

Anda bisa menghapus daftar hitam BI Checking dengan mengikuti tahapannya yang dirangkum dalam ulasan berikut ini!


BI Checking adalah hal pertama yang harus dicari tahu sebelum mengajukan KPR ke bank. Pasalnya, apabila nama dan riwayat Anda masuk dalam daftar hitam BI Checking, maka sudah pasti proses pengajuan KPR menjadi langkah yang sia-sia. 

Lalu, bagaimana bila nama Anda sudah masuk ke dalam daftar hitam BI Checking? Tenang saja, Anda bisa menghapus daftar hitam BI Checkingkok. Untuk itulah, dalam artikel ini akan dibahas beberapa poin seperti:

  1. BI Checking Adalah…
  2. Rumah di Bawah Rp 500 Juta
  3. Syarat BI Checking Adalah yang Disukai Bank
  4. Tata Cara Permintaan Informasi Debitur (iDeb) SLIK atau BI Checking Adalah…
  5. Cara Meminta iDeb Secara Online atau BI Checking Adalah…
  6. Cara Membaca Informasi BI Checking Adalah…
  7. Cara Menghapus Daftar Hitam BI Checking Adalah…
  8. Tips agar BI Checking Aman
    1. Tips Aman BI Checking adalah Jangan Mengajukan Kartu Kredit (Lagi)
    2. Tips Aman BI Checking adalah Bayar Tagihan Tepat Waktu dengan Jumlah Maksimal
    3. Tips Aman BI Checking adalah Buat Target Anggaran
    4. Tips Aman BI Checking adalah Bayar Tunai
  9. Selain Daftar Hitam BI Checking, Ini Penyebab Lain Pengajuan KPR Ditolak Bank
    1. Pendapatan Tak Cukup untuk Mencicil KPR
    2. Masa Kerja Kurang dari Dua Tahun
    3. Dokumen Kurang Lengkap
    4. Usia Pensiun

Yuk, langsung saja simak ulasan keseluruhan mengenai BI Checking yang kini berubah jadi SLIK di bawah ini.

1. BI Checking Adalah

Secara singkat, BI Checking merupakan riwayat pinjaman seorang nasabah sehingga dapat diketahui apakah ia pernah menunggak kredit atau tidak. Dalam BI Checking terdapat informasi mengenai identitas debitur, besar agunan, pemilik, pengurus, penjamin, fasilitas penyediaan dana, juga kolektibilitas yang ada di dalamnya.

Kini, BI Checking telah beralih menjadi Sistem Layanan Informasi Keuangan atau SLIK. SLIK sendiri merupakan sistem informasi yang pengelolaannya di bawah tanggung jawab OJK. Sistem ini sebagai bentuk OJK untuk untuk melaksanakan tugas pengawasan dan pelayanan informasi keuangan. Salah satunya adalah informasi debitur (iDeb).

Sistem BI Checking ini memperluas cakupan iDeb yaitu melingkupi lembaga keuangan bank dan lembaga pembiayaan (finance) dan juga ke lembaga keuangan non-bank yang mempunyai akses data debitur dan kewajiban melaporkan data debitur ke Sistem Informasi Debitur (SID).

SLIK juga dipakai untuk melaporkan, fasilitas penyediaan dana, data agunan, dan data terkait lainnya dari berbagai jenis lembaga keuangan, masyarakat, Lembaga Pengelolaan Informasi Perkreditan (LPIP), dan pihak lainnya.

2. Rumah di Bawah Rp 500 Juta

Jika BI Checking adalah aman dan Anda ingin memiliki rumah di Jakarta, Anda perlu memastikan pendapatan Anda cukup untuk membayar cicilan KPR agar pengajuan KPR Anda tidak ditolak oleh bank. Rumah-rumah berikut ditawarkan dengan harga di bawah Rp 500 juta, sehingga cicilannya bisa agak ringan.

3. Syarat BI Checking Adalah yang Disukai Bank

Tak jarang pengajuan Kredit Pemilikan Rumah ditolak akibat calon debitur pernah tersandung masalah kredit macet dan masuk daftar hitam BI Checking. Apakah blacklist BI Checking adalah akhir dari impian Anda memiliki hunian? Nyatanya, tidak.

Memang, bila Anda pernah mengajukan kredit termasuk kartu kredit, maka secara otomatis catatan pembayaran pelunasan transaksi kredit Anda akan terlihat.

Ternyata, bank membagi debitur menjadi lima peringkat, yakni:

  1. Skala 1 = Kredit baik (lancar).
  2. Skala 2 = Kredit Dalam Perhatian Khusus (DPK), atau kredit yang mutasinya tidak lancar selama 1-2 bulan.
  3. Skala 3 = Kredit Tidak Lancar alias kredit yang mutasinya tidak lancar selama 3-6 bulan.
  4. Skala 4 = Kredit Diragukan yakni kredit tidak lancar yang sudah jatuh tempo tapi belum juga diselesaikan oleh debiturnya.
  5. Skala 5 = Kredit Macet atau usaha pengaktifan kembali Kredit Tidak Lancar tapi tetap gagal.

Bila lancar membayar cicilan dan selalu tepat waktu, maka Anda mendapat peringkat pertama, sementara bagi yang belum melunasi hutangnya lebih dari 270 hari masuk dalam peringkat lima.

Bank tentu menyukai calon debitur dengan skala 1 alias aman BI Checking, sedangkan calon debitur berskala 2, meski juga berstatus BI Checking baik, masih dalam pengawasan karena dikhawatirkan sewaktu-waktu kredit dalam perhatian khusus ini jadi macet.

Daftar hitam BI Checking adalah calon debitur dengan skala 3, 4, dan 5. Bank akan menolak pengajuan KPR mereka. Sebab, bank tidak mau mengambil risiko jika kredit yang diberikan akan bermasalah (non performing loan atau NPL).

4. Cara Menghapus Daftar Hitam BI Checking

Pada dasarnya, Anda diberi waktu enam bulan untuk pemulihan peringkat debitur. Setelah kembali mendapat peringkat pertama, Anda baru dapat mengajukan kredit baru.

Jika masuk peringkat tiga, maka Anda sudah mendapat peringatan. Cara terbaik untuk lolos BI Checking adalah melunasi semua tunggakan beserta biaya penalti. Akan tetapi, Anda juga bisa mengajukan negosiasi ulang terkait jangka waktu pembayaran dan perhitungan utang dengan pihak bank.

Nah, bagaimana jika BI Checking sudah masuk peringkat lima? Tentu saja Anda harus terus membayar cicilan dan melunasi hutang-hutang cicilan tersebut. Jika dalam tiga bulan pembayaran cicilan lancar, maka BI Checking Anda bisa naik ke peringkat tiga.

Apabila tiga bulan kemudian masih lancar (apalagi jika bisa langsung melunasi utang), maka BI Checking Anda bisa naik ke peringkat pertama dan dapat mengajukan kredit baru.

5. Tips agar BI Checking Aman

Jika sudah tersandung kredit macet, maka reputasinya akan tercoreng dalam catatan BI Checking, termasuk akan disulitkan kala ingin mengajukan pinjaman melalui lembaga perbankan.

Kredit macet pun banyak terjadi dalam urusan kepemilikan properti. Kekhawatiran ini semakin besar khususnya di kalangan milenial yang belum berpengalaman mengelola keuangan dengan baik. Lantas, bagaimana siasat untuk menghindari kredit macet agar status BI Checking tetap aman?

a. Tips Aman BI Checking adalah Jangan Mengajukan Kartu Kredit (Lagi)

Jika Anda baru saja mengajukan kredit perumahan (kurang dari dua tahun), maka skor kredit Anda masih tercatat positif. Meski demikian, jangan coba-coba menambah pinjaman dengan mengajukan kartu kredit.

Sebab, memiliki kartu kredit akan memicu pemiliknya untuk berbelanja barang-barang di luar daya belinya. Semakin bertambah jumlah tagihan angsuran per bulan, maka akan semakin besar pula risiko kredit macet yang menghantui Anda. Status BI Checking Anda jadi taruhannya.

b. Tips Aman BI Checking adalah Bayar Tagihan Tepat Waktu dengan Jumlah Maksimal

Salah satu kebiasaan yang memicu kredit macet yang memengaruhi status BI Checking adalah telat membayar tagihan bulanan. Tidak hanya untuk angsuran kredit KPR, tapi juga untuk tagihan listrik, telepon pascabayar, dan lain sebagainya.

Biasakan untuk membayar semua tagihan bulanan tepat waktu dengan jumlah maksimum yang Anda mampu. Manfaatkan aplikasi pengingat yang ada di ponsel pintar untuk membantu Anda melakukan hal ini.

c. Tips Aman BI Checking adalah Buat Target Anggaran

Ubah kebiasaan lama Anda yang hanya mengeluarkan uang tanpa dibatasi. Mulai sekarang, buat bujet pengeluaran maksimal dan patuhi dengan disiplin. Kemudian lacak pengeluaran dari setiap rupiah yang keluar dari rekening Anda.

Dengan melakukan pelacakan maka Anda akan memahami pola pengeluaran dan bagaimana cara meminimalisasinya, sehingga Anda bisa menjaga status BI Checking Anda tetap aman.

d. Tips Aman BI Checking adalah Bayar Tunai

Seringkali Anda tak sadar mengeluarkan banyak uang karena membayarnya lewat kartu debit atau kartu kredit. Sebuah studi menyebutkan bahwa seseorang cenderung mengeluarkan uang lebih besar sekitar 18% ketika menggunakan uang elektronik.

Jadi, mulai sekarang biasakan membayar segala transaksi dengan uang tunai. Anda akan berpikir dua kali menggunakan uang yang sudah disimpan di dompet.

6. Selain Daftar Hitam BI Checking, Ini Penyebab Lain Pengajuan KPR Ditolak Bank

BI Checking adalah komponen penting dalam penentuan disetujui atau tidaknya permintaan Anda. Pihak bank pengucur kredit pun secara ketat menyeleksi calon konsumen untuk mengurangi potensi kredit macet

Agar pengajuan KPR Anda berjalan lancar, ada sejumlah hal terkait kondisi keuangan Anda yang harus Anda penuhi. Selain BI Checking adalah masa kerja, rasio hutang, dan lainnya yang juga diperiksa.

a. Pendapatan Tak Cukup untuk Mencicil KPR

Bank biasanya menghitung cicilan KPR sekitar 30% atau 1/3 dari jumlah penghasilan bulanan. Apabila 30% penghasilan tidak mencukupi untuk membayar cicilan KPR, maka jangan harap pengajuan KPR Anda dikabulkan.

b. Masa Kerja Kurang dari Dua Tahun

Beberapa bank memberikan persyaratan yang cukup ketat kepada setiap pemohon pengajuan KPR. Untuk Anda yang berstatus karyawan, bank memberi syarat telah bekerja atau menjadi karyawan tetap selama dua tahun.

Jika masa kerja Anda belum dua tahun, Anda harus menyertakan surat keterangan kerja/SK pengangkatan dari kantor sebelumnya sehingga masa kerja Anda genap/melampaui dua tahun.

c. Dokumen Kurang Lengkap

Perlu diingat, pihak bank sangat teliti mengecek setiap dokumen dan data-data yang Anda berikan. Sedikit saja terjadi kesalahan maka pihak bank akan menolak pengajuan KPR Anda.

Selain penyediaan dokumen yang kurang lengkap, bank bisa saja menolak KPR apabila data yang diberikan berbeda. Misalnya, Anda menulis pendapatan sebesar Rp 7 juta per bulan, setelah dihubungi ke kantor ternyata gaji Anda hanya Rp 5 juta per bulan.

Di samping itu, nyalakan selalu ponsel Anda untuk menjawab panggilan telepon dari bank. Bila Anda susah dihubungi, bank tak segan menolak pengajuan KPR Anda.

d. Usia Pensiun

Bank memberikan persyaratan yang cukup ketat saat pengajuan KPR, yakni usia maksimal nasabah saat cicilan berakhir 55-65 tahun (sesuai aturan masing-masing bank). Karenanya, hitunglah usia Anda hingga masa tenor Anda selesai. Jangan sampai melebihi batas tersebut. Bila dalam perjalanan mencicil KPR Anda sudah mau pensiun, maka siap-siap KPR ditolak.

Itulah ulasan lengkap mengenai SLIK dan daftar hitam BI Checking. Bagaimanapun, usahakan menggunakan uang Anda secara bijak. Dengan begitu, Anda jadi lebih mudah dalam mengurus hal-hal terkait kepemilikan properti untuk selanjutnya dan status BI Checking Anda selalu aman.


Sumber : https://www.rumah.com/panduan-properti/cara-mengetahui-dan-menghapus-daftar-hitam-bi-checking-8051

Pada artikel ini, Anda akan mendapatkan panduan, tips, dan pengertian seputar KPR, syarat-syarat, dan istilah-istilah yang ada di dalamnya.


Properti, khususnya rumah, kini memiliki nilai lebih lebih dari sekedar tempat tinggal. Selain sebagai kebutuhan primer, rumah juga dianggap sebagai aset investasi yang nilainya terus meningkat dari waktu ke waktu.

Karena harganya yang terus naik, tidak semua orang mampu membeli rumah secara tunai. Akhirnya pembiayaan dalam bentuk pinjaman atau kredit perumahan kini menjadi metode pembelian yang populer.

Fasilitas pembiayaan atau Kredit Pemilikan Rumah (KPR) adalah pinjaman yang diberikan oleh lembaga perbankan atau lembaga keuangan sekunder (housing finance) untuk membeli rumah tinggal atau rumah investasi.

Meski demikian, karena status properti pada saat pembiayaan berada di tangan peminjam, maka mereka berhak menyita properti apabila peminjam tidak sanggup melunasi atau terjadi kredit macet.

Pada artikel ini, Anda akan mendapatkan panduan, tips, dan pengertian seputar KPR, syarat-syarat, dan istilah-istilah yang ada di dalamnya.

Mekanisme Pembiayaan Kredit Perumahan

Dalam Kredit Perumahan, pembeli properti atau peminjam akan menyerahkan status pemilikan rumah kepada pemberi pinjaman. Setelah cicilan dilunasi beserta syarat dan ketentuan lain diselesaikan, maka status kepemilikan rumah akan kembali ke pembeli properti.

Ketika membeli rumah lewat KPR, nasabah cukup membayar persekot atau uang muka (Down Payment). Kemudian sisanya akan dilunasi oleh pihak bank.

Beberapa pengembang ada yang menawarkan promosi kredit rumah tanpa DP (uang muka) untuk menarik calon pembeli. Meski demikian, mekanisme kredit rumah tanpa DP biasanya hanya mengalihkan nominal uang muka ke dalam cicilan perbulan.

Mengenal Suku Bunga dalam KPR Rumah

Jumlah cicilan KPR rumah terdiri atas utang pokok dan suku bunga. Utang pokok adalah nominal uang yang belum dilunasi nasabah ketika mengajukan pembelian rumah.

Sedangkan suku bunga (interest rates) adalah biaya jasa KPR rumah yang ditentukan oleh bank tersebut atas persetujuan Bank Indonesia.

Dalam Kredit Perumahan, dikenal dua jenis suku bunga yaitu fixed dan floating.

Fixed (tetap)

Dimana peminjam membayar bunga dengan nominal yang tetap selama periode yang disepakati.

Floating (mengambang)

Ketika persentase suku bunga berubah-ubah sesuai dengan ketetapan bank. Nilai tersebut berubah-ubah sesuai dengan pasar suku bunga. Ketika kondisi ekonomi baik maka bunga kredit rumah cenderung rendah, begitupun sebaliknya.

Sebagian besar bank di Indonesia mengombinasikan suku bunga tetap dan mengambang untuk para peminjam. Misalnya di tiga tahun pertama bunga tetap sebesar 7%.

Setelah itu bunga berubah-ubah sesuai dengan pasar sampai cicilan selesai dilunasi. Biasanya perubahan suku bunga diperbarui setiap tiga bulan sekali. Sebaiknya buatlah perbandingan dan pelajari produk KPR bank -bank yang ada untuk bisa memilih produk KPR yang paling sesuai.

Manfaat Membeli Rumah Lewat KPR

Fasilitas Kredit Perumahan memperbesar kemungkinan kelompok masyarakat untuk memiliki properti. Dengan cicilan yang ringan, mereka tidak perlu membayar penuh harga jual yang ditetapkan.

Melalui KPR rumah, calon pembeli cukup mengumpulkan sejumlah uang muka (down payment). Ada pula beberapa pengembang yang menawarkan promosi kredit rumah tanpa DP untuk meringankan pengajuan KPR rumah.

Keunggulan Membeli Rumah dengan Fasilitas KPR

KPR tentunya bukan satu-satunya cara untuk membeli rumah dengan harga yang lebih murah. KPR rumah merupakan salah satu bentuk pembiayaan yang paling banyak digunakan sekaligus disarankan oleh penasehat keuangan.

Ada beberapa alasan lain mengapa harus memilih KPR untuk pembelian rumah.

  • Bersifat Legal. Bank hanya membiayai pembelian rumah yang dilengkapi sertifikat. Sebelum menerima sertifikat itu, bank mengecek keabsahannya lewat Badan Pertanahan Nasional (BPN). Artinya, legalitas rumah yang Anda beli aman dan terjamin.
  • Siap Huni. Karena membeli dengan pembiayaan kredit perumahan KPR berarti Anda bisa langsung menghuni rumah itu, bahkan sebelum cicilan pinjaman lunas. Kecuali apabila rumah yang dibeli adalah inden (dalam proses pembangunan).
  • Investasi Jangka Panjang. Rumah yang dibeli dengan kredit perumahan KPR bisa Anda manfaatkan pula sebagai aset investasi jangka panjang. Terlebih jika rumah yang dibeli berada di lokasi strategis, sehingga nilai rumah bisa dipastikan akan meningkat setiap tahun.
  • Bisa Disewakan. Apabila Anda menyewakan rumah yang dibeli dengan pembiayaan kredit permahan, maka Anda bisa menggunakan uang sewa itu untuk membayar cicilan bulanan. Dengan kata lain Anda bisa memperoleh rumah secara gratis.
  • Angsuran Fleksibel. KPR rumah dengan angsuran tertentu setiap bulannya lebih memudahkan Anda untuk mengatur keuangan. Sementara bagi peminat KPR dari kalangan pegawai kantoran yang sebelumnya sudah mengontrak rumah, maka biasanya akan lebih mudah lagi karena sudah rutin menyisihkan gaji bulanan. KPR juga memiliki jenis-jenis tersendiri dengan cara angsuran yang berbeda pula
  • Cicilan Semakin Ringan. Meski angsurannya relatif tetap, namun lama-lama nilainya secara riil menurun akibat inflasi atau karena penghasilan Anda umumnya naik secara periodik. Biaya cicilan semakin lama akan terasa semakin ringan. Bahkan banyak diantaranya yang mampu melunasi perumahan KPR -nya sebelum tenor berakhir
  • Aset Untuk Agunan Kredit. Perumahan KPR bisa dimanfaatkan sebagai solusi agunan kredit di kala Anda membutuhkan pinjaman bank. Karenanya, belum lunas pun jika menurut bank Anda merupakan debitur yang baik, bank tak akan segan menawarkan kredit lain untuk keperluan usaha atau hal lainnya.

Persyaratan Mengajukan KPR Rumah

Secara umum, proses pengajuan kredit perumahan KPR terbilang mudah. Namun sebelumnya Anda harus melengkapi syarat dan ketentuan yang ditentukan pihak bank.

Setelah memeriksa dokumen dan pengecekan secara langsung, barulah Bank bisa mengambil keputusan untuk menyetujui atau menolak pengajuan KPR rumah.

Hal pertama yang harus dipersiapkan adalah uang muka (DP) minimal 5-15 persen dari harga rumah. Kemudian kredit perumahan KPR diajukan dengan mengisi formulir pemesanan unit dari pengembang serta melunasi biaya pemesanan dan uang muka.

Lengkapi formulir pengajuan kredit perumahan dan siapkan dokumen-dokumen penting berikut ini:

Dokumen KPR Standar

  • Usia tidak lebih dari 50 tahun ketika mengajukan permohonan KPR
  • Fotokopi KTP pemohon
  • Akta nikah atau cerai
  • Kartu keluarga
  • Surat keterangan WNI (untuk WNI keturunan)
  • Dokumen kepemilikan agunan (SHM, IMB, PBB)

Dokumen Tambahan untuk Karyawan

  • Slip gaji
  • Surat keterangan dari tempat bekerja
  • Buku rekening tabungan yang menampilkan kondisi keuangan 3 bulan terakhir

Dokumen Tambahan untuk Wiraswasta atau Profesional:

  • Bukti transaksi keuangan usaha
  • Catatan rekening bank
  • NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak)
  • SIUP
  • Surat izin usaha lainnya, seperti Surat Izin Praktik untuk para dokter
  • Tanda Daftar Perusahaan (TDP)

Kemudian setelah melewati proses analisis risiko dan survei penilaian properti, pengajuan kredit perumahan KPR akan dilanjutkan ke tahap akad kredit. Kemudian tahap selanjutnya adalah melunasi biaya dan kebutuhan administrasi berikut ini.

Biaya ekstra yang harus dikeluarkan mencakup keperluan BPHTB (Bea Peralihan Hak Atas Tanah dan Bangunan) yang jumlahnya 5% dari harga jual properti sebelum pajak. Kemudian biaya asuransi FIDUCIA, Provisi kredit, dan biaya notaris.

Apabila akad kredit rumah sudah selesai, maka bank akan memencairkan dana kredit rumah yang ditransfer langsung ke rekening penjual atau pengembang.

Proses ini biasanya membutuhkan waktu maksimum 7 hari kerja. Apabila semua angsuran KPR rumah telah dilunasi, bank akan mengeluarkan Surat Pelunasan Utang dan Sertifikat Asli Kepemilikan Unit Properti.


Sumber : https://www.rumah.com/panduan-properti/mengenal-kpr-keunggulan-dan-syarat-pengajuannya-8335



Bagi Anda yang first time buyer atau kali pertama membeli rumah baru, mungkin masih asing dengan istilah PPJB, PJB hingga AJB. Padahal ketiga aspek ini tidak boleh dianggap remeh sebab bisa menimbulkan akibat yang fatal.

Mengapa? Karena, dalam ketiga istilah tersebut tertera jelas antara hak dan kewajiban, baik untuk konsumen maupun pengembang (penjual). Dan apabila Anda benar-benar tidak memahaminya, ditakutkan bisa merugikan Anda sebagai konsumen.

Untuk memberikan panduan bagi Anda yang awam, kami akan menjabarkan pengertian dari ketiga istilah perjanjian penting saat hendak beli rumah.

Perjanjian Pengikat Jual Beli (PPJB)

Perjanjian pertama adalah PPJB. Tujuan adanya PPJB ini sebagai pengikat sementara, saat pembuatan AJB resmi di hadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT). Singkatnya, PPJB adalah isi kesepakatan penjual untuk mengikatkan diri akan menjual kepada pembeli dengan disertai pemberian tanda jadi atau ‘uang muka’ berdasarkan kesepakatan.

Biasanya, pembuatan PPJB ini dibuat pada saat pembayaran harga belum luas. Adapun isi yang tertera pada PPJB antara lain harga, kapan waktu pelunasan, dan ketentuan dibuatnya AJB.

Poin-poin penting pada PPJB ini meliputi obyek pengikatan jual beli, kewajiban dan jaminan penjual, kewajiban bagi pembeli, dan isi perjanjian pengikatan jual beli sesuai keputusan pemerintah.

Pengikatan Jual Beli (PJB)

Kedua adalah Pengikatan Jual Beli (PJB). Perjanjian ini menjelaskan kesepakatan antara penjual untuk menjual properti miliknya kepada pembeli yang dibuat dengan akta notaris.

Adanya PJB ini sebenarnya membantu konsumen apabila hendak menjual propertinya dengan alasan tertentu, misalnya belum lunasnya pembayaran properti.

PJB dikenal menjadi dua macam yaitu PJB lunas dan PJB tidak lunas. PJB lunas menjelaskan transaksi atas obyek jual beli yang berada di luar wilayah kerja notaris atau PPAT yang bersangkutan.

Sedangkan PJB tidak lunas dibuat apabila pembayaran harga jual beli belum lunas diterima oleh penjual. Pada PJB tidak lunas, hal-hal yang dicantumkan antara lain jumlah uang muka yang dibayarkan pada saat penandatangan akta PJB, cara atau termin pembayaran, kapan pelunasan, dan sanksi-sanksi yang diberikan.

Akta Jual Beli (AJB)

Terakhir adalah Akta Jual Beli (AJB). Perjanjian ini merupakan akta otentik yang dibuat dan dikeluarkan oleh PPATK. Tujuannya, sebagai peralihan hak atas tanah dan bangunan.

Aturan pembuatan AJB ini bersifat baku, karena mengacu pada Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 8 Tahun 2012 tentang Pendaftaran Tanah. Salah satu syarat AJB ini bisa dibuat, apabila seluruh pajak-pajak yang timbul akibat jual beli sudah dibayarkan seluruhnya oleh pihak yang berkewajiban.

Nanti setelah AJB diterima, Anda bisa melakukan tahap ‘balik nama’  dengan mengajukan pendaftaran peralihan hak ke kantor pertanahan setempat. Apabila proses ‘balik nama’ ini selesai, maka hak atas tanah dan bangunan sudah berpindah dari penjual kepada pembeli.


Sumber: https://www.rumah.com/panduan-properti/kenali-tiga-surat-perjanjian-beli-rumah-6490